Search
Saturday 16 December 2017
  • :
  • :

Novel Karya Siswa : It Was Always You

Part 1.

It Was Always You // #001Senior32
Annisa Dwitifa.

Semua berawal saat aku berjalan menyusuri lantai koridor dengan terpaan angin musim dingin. Sejuk tapi menyakitkan. Kurapatkan lapisan jaketku, memaksa kaki untuk terus berjalan dengan tempo yang lebih cepat. Dan kemudian kau berhenti dihadapanku, astaga! Aku hampir menubruk tubuhmu. Disana kau terpaku memandangku lurus, aku terkunci dalam tatapanmu. 1 menit, 2 menit.. hey apa ini hanya mimpi? Kuharap tidak, dalam 2 menit ini, tanpa sadar kau berhasil membuatku menyukaimu.

    Di atas kulit putih, warna merah karena lelah terpancar, semua orang disana bisa melihatnya, wajahku lelahku dibawah terik matahari sangatlah mengundang simpati, tapi hari ini adalah hari dimana aku melakukan masa orientasiku, tidak boleh ada yang bersimpati padaku.
    Memang kejahilan para senior disini tidak separah yang kubayangkan, tetapi, dijemur dibawah terik matahari membuatku yang lemah menjadi ingin jatuh pingsan. Ini hari ketigaku dijemur, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun, orang dibelakangku lah yang selalu membuat ulah, gadis cantik berambut panjang, yang tingginya, entahlah aku hanya setinggi ketiaknya, tiga hari berturut-turut ia membuat banyak kesalahan dan dengan santainya menimpakan kesalahan itu padaku, sehingga ia terbebas dari matahari yang akan membuatnya berkeringat dan membakar habis kulit mulusnya. Tidak kuputuskan untuk menyalahkan gadis itu, para senior pun luluh dibawah lututnya, sehingga akan sia-sia jika aku menyalahkan gadis itu.
    Jam tanganku hampir menunjukkan waktu tengah hari, pusing di kepalaku sudah tak bisa kutahan, nafasku sudah mulai tersengal-sengal, kedua kaki yang seharusnya sangat kuat menopang tubuhku kini melemas, penglihatanku pun mulai memburam, dan.. Pst. Akupun tak sadarkan diri.
    Perlahan aku mencoba membuka mata. Kilatan putih ruang kesehatan menyilaukan mataku yang baru mulai beradaptasi. Akupun mencoba untuk duduk, tidak, aku tidak merasakan sakit apapun ditubuhku, padahal terakhir kuingat adalah aku tak kuasa menahan sakit akibat matahari yang berada di atasku.
    “Junior 65 udah bangun, mau di apain nih?” Seorang senior yang aku tidak bisa mengingat apa dia ada saat di lapangan, sedang terduduk di pojokan ruangan kesehatan sambil menelpon temannya yang kurasa adalah salah satu penjaga di lapangan.
    “Ok, ok gue bawa kesana ya.” Ia pun menutup telponnya dan bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arahku, tanpa sedikit senyum di wajahnya.
    “Udah sehat lu? Disuruh balik ke lapangan.”
    Akupun turun dari kasur dan berjalan dibelakang punggung senior itu, ia tak menyebutkan nama, pula aku.

    “Tidak, tidak perlu, namaku bukan hal penting baginya, aku hanyalah junior 65.” Pikirku.
    Aku menghentikan langkahku di perbatasan koridor dan lapangan, enggan rasanya melompat lagi di bawah terik matahari yang tak kunjung meredup, kulihat sesama senior mereka berbisik sambil sesekali melirikku. Dengan wajah tanpa senyumnya, Senior 32, itu yang tertulis di bajunya, mendatangiku dan memeberi isyarat padaku agar aku mengikuti jalannya. Langkahnya besar, posturnya tidak begitu tegap, tubuhnya gemuk tapi memiliki kaki yang kecil, rambut keritingnya sesekali bergoyang akibat guncangan yang ia buat selagi ia berjalan. Tiap melewati para gadis yang selevel dengannya, ia selalu menyapa, dan para gadis pun membalasnya dengan senyum manis.
    “Populer.” Pikirku. Ia berhenti di depan ruang kelas tempat dimana aku menyimpan tas ku.     
    “Cepet ambil tas lo.” Tanpa bertanya akupun langsung mengambil tas ransel berwarna hijau terang yang ku simpan di atas meja paling depan.
    “Ikutin gue.” Bagiku ini seperti perintah satu arah, ada rasa bahwa aku tidak diperbolehkan untuk bertanya. Maka kulakukan semua yang ia perintahkan tanpa bertanya macam-macam. Lelaki itu berjalan menuju tempat parkir, parkiran motor tepatnya. Untuk apa? Mana ku tahu, ia hanya memerintahkan ku untuk mengikutinya.
    “Gue diminta Dio buat nganterin lu pulang, muka lo pucet, Dio nggak tega buat ngejemur elu lebih lama.” Katanya sambil menyalakan mesin motornya.
    “Kak Dio? Ooh yang jaga di lapangan tadi ya?” Tanyaku dengan polosnya.
    “Iya, cepetan naik, gue masih ada tugas nih.”
    “Ya kalo mau cepet mah kasih gue duit terus suruh aja gue pulang sendiri.” Pikirku jengkel.
    “Kan kalo elu gue suruh pulang sendiri ntar lu pingsan di jalan siapa yang nanggung? Pasti kan gue.” Kata ‘dia’ yang aku tidak tahu namanya ini, seolah ia bisa membaca pikiran ku.
    “Eh?” Wajah bingung khas Alika pun keluar, sambil mengernyitkan dahi aku naik dibelakang tubuh Senior 32 itu.
    Motornya pun melaju menuju pintu keluar sekolah, setelah aku memberitahu alamat rumahku ia menggas motornya seolah ia sering mengantarkanku pulang, ia tidak bertanya apakah belok kanan atau kiri, malah ia memilih jalan kecil yang aku tidak pernah tahu ada jalan itu disana. Sejenak, ia sudah membawaku ke depan komplek perumahanku.
    “Sering kesini kak?” Aku pun mencoba untuk bertanya.
    “Tiap hari.” Jawabnya cepat.
    “Ngapel ke rumah pacarnya ya?” Tanya ku dengan nada menggoda.
    “Nggak, rumah gue di Blok E.”
    “Ohya? Wah cuma beda 3 blok kita. Tapi kok nggak nggak pernah liat ya?” Aku memberanikan diri mengajaknya bicara dengan menyodorkan wajahku mendekati lehernya.
    “3 blok kan jauh bego.” Dari nadanya ia sudah merasa muak dengan ku. Ia pun memberhentikan motornya di depan rumahku, dengan cepat aku turun dari motor besarnya itu.
    “Kapan-kapan mampir ya kak, itung-itung silahturahmi sama tetangga.” Tak bisa kutahan untuk mengeluarkan senyum termanisku dihadapannya, tapi ia mengabaikannya, lambaian tanganku pun hanya dibalas dengan anggukan kecil, aku tahu, itu anggukan paksaan, ya terlihat dari balik kaca helm, wajah tanpa senyumannya itu.
    “Huh sombong. Mentang-mentang senior.” Pikirku.
    Tanpa menjawab permintaanku ia langsung menggas motornya untuk kembali ke sekolah. Tiba-tiba kepalaku kembali pening, rasanya kepalaku seperti di peras di mesin pembuat jus yang baru saja aku beli di pusat perbelanjaan akhir pekan kemarin. Aku langsung menuju kamarku dan tertidur tanpa melepas seragam yang berbau matahri ini.

***
    “Alika, makan nak.” Suara ibu membangunkanku yang sedari siang teridur pulas.
    “Iya bu.” Akupun keluar kamar setelah mandi dan dan mengganti pakaianku. Seluruh keluarga sudah menungguku di meja makan. Dengan gontai aku menarik kursi yang tersisa dan mulai berdoa kemudian makan malam pun dimulai.
    “Kamu kok tadi pulang cepet kak?” Tanya Shanin, satu-satunya adikku.
    “Iya disuruh sama seniornya.”
    “Kenapa lu dek?” Tanya kak Jihan, kakakku.
    “Dijemur 3 hari berturut-turut terus tadi pingsan, yaudah seniornya bilang gue pulang aja.” Jawabku sambil menyuap sesendok sup jagung.
    “Dijemur? Wahahahaha pasti lu bikin salah ya? Dasar bandel.”
    “Enak aja, bukan gue tau, ada cewek cantik gitu yang selalu buat salah, sialnya gue yang selalu ada di deketnya, jadi dia nyalahin gue, semua senior juga terpesona sama dia, jadi kalo gue ngelak pun sia-sia.”
    “Kasian banget sih lu.” Kak Jihan pun tertawa geli mendengar ceritaku.
    “Yang nganter kamu tadi, itu seniromu?” Tanya ibu sambilsenyum menyeringai.
    “ Iya. Tapi dia cuma suruhan.” Aku menjawab dengan wajah tersipu malu.
    “Cie Alikaa.” Tawa kak Jihan makin menjadi-jadi. Shanin yang berada di sebelahku pun ikut tertawa sambil menggelitiki perutku.
    “Niiin, apasih geli ah. Lagian dia disuruh senior yang jaga lapangan, kak Dio, aku aja nggak tau namanya siapa, yang ku tau cuma dia itu Senior 32, dia juga nggak tau namaku kayaknya, dia aja manggil aku Junior 65.” Aku menjelaskan dengan terburu-buru karena malu.
    “Si Dio itu naksir sama lo dek?” Tanya kak Jihan sambil menahan tawa.
    “Dua hari lalu sih ada gosip gitu.” Jawabku sambil menundukkan kepala.
    “Ya ampun kak Aal, itu mimpi semua junior kali, dianterin pulang sama seniornya, di taksir di masa orientasi.” Kata Shanin yang tahun depan akan memasuki masa SMA.
    “Percaya deh Nin, nggak seindah itu.” Aku meyakinkan Shanin bahwa diantar pulang oleh seorang senior sedingin Senior 32 itu sama sekali tidak menyenangkan, bukan suatu kebanggaan.
    “Tapi kak, itu yang di impiin sama anak seangkatanku.” Bantah Shanin.
    “Terserah kamu deh.” Aku pun kalah telak di depan kak Jihan dan Shanin, juga ibu dan ayah.
    Aku melanjutkan makan malamku, tapi benar saja, meskipun aku memilih untuk tidak peduli, aku tak hentinya memikirkan kak Dio ataupun si Senior 32 itu. Kak Dio yang dari pertama kali kita bertemu ia sudah sangat peduli dengan ku sedangkan Senior 32 yang memperlakukan aku seenak jidatnya, tetapi bagiku Senior 32 lah yang lebih eksentrik di mataku, meski bisa dibilang kalau kak Dio itu memang ganteng dan populer, aku lebih suka memikirkan Senior 32 itu.