Search
Friday 19 January 2018
  • :
  • :

Aku Yang Merdeka

Oleh: Yudha Kurniawan

 

 

Besok malam jalannya. Bukankah sudah diumumkan sejak sebulan lalu. Bahkan pekan lalu juga sudah disyurokan.”

Oh ya? Lagi gak ikut kali.”

Atau, paling juga tidur.” Nada sinis menimpaliku.

Tidur di syuro? Rasanya memang lelap tanpa sadar. Pagi sibuk, yang ada hanya tenaga sisa buat menginformasikan, mendengarkan, jika mungkin mencoba urun rembuk masalah kebersihan yang tidak ada habisnya di sekolah. Kok bisa ya?, pikirku dalam-dalam.

 

Aku juga bingung harus mulai dari mana. Pastinya aku tidur atau ketiduran saat pembahasan long march buat besok malam.

Besok kamu sekelompokku lho. Jangan lupa bawa rompi kebesaran kita dan jatahmu bawa bendera. Tanpa toleransi”, sambung Ivan dengan tidak mengharapkan keberatanku.

Mataku menatap Ivan dengan terpaksa. Kosong tanpa sepatah argumen di ujung bibirku. Pasrah menerima tugas yang aku tak tahu. Mungkin juga tak mau tahu.

“Tia, Roni, Nur, Sarah, Wulan anggota kita.” Ivan masih saja memperkenalkan anggotanya.

Roni kebagian tiang bendera. Jangan protes. Sudah disepakati kemarin”, lanjutnya.

Aku gak ada”, aku mencoba menjelaskan ketidaktahuanku.

“Lagi mengajar kan”, tambah Ivan, tanpa ingin disela olehku.

Oh ya…?”, ragu aku bertanya.

Aku ingat, waktu itu aku sedang mengajar Bahasa Indonesia di kelas delapan.


 

Aku sebenarnya tidak terlalu yakin bisa ikut kegiatan ini. Sudah lama aku tidak olahraga, atau bahkan sekedar lari-lari kecil dari kelas ke kantin sekolah. Maklum, beratku mendekati delapan puluh kilogram. Rasanya kaki ini berat sudah. Jauh rasanya jika dibanding lima-sepuluh tahun lalu ketika masih aktif mendaki gunung atau sekedar hiking di jalanan setapak perbukitan dekat rumah.

Tanpa dapat dicegah, pikiranku mengembara, kembali ke masa lalu.

Hendri dan Aska kakaknya yang umurnya tidak terpaut jauh, selalu memanggilku dengan kode siulan tangan setiap pagi akhir pekan. Kedua telapak tangan dilekatkan membentuk ikatan kuat dengan satu rongga tepat di persendian ibu jari.

Tit tu it, tit tu it.” Suara siulan khas gengku memaksaku menemuinya sebelum sholat Subuh tiba.

Kita sholat dulu ya. Di masjid”, kataku biasanya.

“Kamu Ga, pasti nyuruh sholat terus”, sambut Aska.

Biar berkah dong”, balasku.

Setengah terpaksa. Tapi biasanya aku selalu berhasil mengajak gengku sholat. Seperti biasa sepatu sudah dipersiapkan lengkap dengan kaos kaki. Biar tidak lecet. Maklum rute tetap, menara pemancar, dengan jarak tempuh enam kilometer.

Setelah salam, tanpa menunggu ritual dzikir, tanpa pemanasan, selangkah demi selangkah, kami lari mengikuti jalan setengah beraspal. Lari pagi dengan udara dingin menusuk tulang.

Waktu itu, kalau kutahu lari terlalu pagi tidak sehat pasti aku tidak ikut. Sayang terlambat. Sampai akhirnya Miftah terkena paru-paru basah dua tahun berikutnya.

“Gara-gara kita kali ya Hen, Miftah jadi penyakitan begitu.”

“Memang anaknya saja yang sakit-sakitan Ga. Gak usah ngerasa bersalah”, balas Hendri.

“Hen, aduh, kaki ku gemetaran begini. Tinggi banget sih”, Miftah menghiba.

Merem aja turunnya. Satu-satu. Pelan-pelan”, teriak Hendri membalas dari puncak menara.

Aku juga sebenarnya takut, tapi teman-teman gak pernah tahu. Menara pemancar setinggi 200 meter menjadi langganan kami untuk dipanjat.

“Kenapa ya?”, Miftah pernah bertanya tentang kegiatan gila kami ini.

Gak tahu juga. Padahal, kalau ketahuan petugas menara bakalan dimarahin habis”, kataku menimpali.

“He he he ….”, kami tertawa bersama, belum menemukan jawaban yang tepat.

Minggu depan dan minggu berikutnya kami naik lagi, tidak pernah kapok.

Paling Hendri bilang, “Dasar kita ya.”

Tiba-tiba pertanyaan Ivan membuyarkan semua lamunanku

“Sudah ingat?”

“Iya”, jawabku singkat.

“Syukurlah. Jangan lupa snack dan perlengkapan jalan. Tanya lagi, awas!”, ancam Ivan.

“Oke bos!”

Aku berusaha menyamakan frekuensi pembicaraan Ivan. Maklum, setelah terjatuh beberapa hari lalu, lembar-lembar memoriku perlu di-up grade lagi. Teman-temannku tidak tahu.

“Ga., Arga, bangun Ga! Aduh, ada-ada aja sih! Hei gimana? Sakit? Ini berapa?” Jaka menunjukkan ke delapan jarinya.

“Delapan, tahu!”, kataku mendelik marah karena disangka tak sadar.

“Syukur deh. Aku pikir kamu pingsan tadi. Habis lama benar. Kamu diam saja dipanggil-panggil.”

“Jangan mendramatisir deh Ka. Paling semenit”, bantah Dedi membantuku duduk di pinggiran pohon rambutan.

Gak apa-apa kan, Ga?” Dedi berusaha meyakinkan diriku yang terjerembab ke selokan dekat akar pohon rambutan satu-satunya di sekolah yang masih rindang.

Gak. Gak apa-apa”, kataku datar.

“Lumayan tinggi Ga. Ada sih 5 meteran”, Jaka sedikit panik.

“Nanti aku antar ke tukang urut langgananku ya Ga”, sambungnya.

Makasih Ka, Aku gak apa-apa kok.”

Barangkali efek jatuh tiga hari lalu masih ada, pikirku. Memasang spanduk long march guru Sekolah Semesta di ketinggian 5 meter. Biar gagah. Teman-teman bilang begitu. Mudah-mudahan bukan riya’.

Lembar-lembar ingatanku yang terburai, satu-satu kutemukan. Berjuang untuk merangkaikannya dalam ikatan panjang tanpa tercecer satupun.

Mudah-mudahan tidak ada yang hilang.


 

Rabu pagi pukul 8.52

“Pak, mau long march ya.” Shofa berkesempatan menegurku. Sejak awal masuk, anak itu memperhatikannku dari kelas enam. Kelas yang berdampingan sejajar lima langkah. Kelas yang bersahabat, walau beda jenjang. Kelas enam dan kelas sembilan.

Nggg…”

“Bareng kakak-kakak SL ya Pak? Asyik banget. Aku juga mau lho”, kata-katanya gencar tidak putus.

Masih bersemangat. Wajar, dia masih muda. Beda sekali dengan anak tingkat lanjutan yang sudah pernah ikut tahun lalu, &l